be humble

Posted: March 26, 2013 in story over coffee

Intinya orang Indonesia suka pamer, Hen. Kata teman saya suatu malam, di kala percetingan random. Saya tersenyum kecil. Gini ya, semua orang di Indonesia ingin di anggap traveler, fotografer atau penulis. Yang juga nge trend sekarang adalah ingin dianggap penulis perjalanan, atau apalah itu. Baru jalan-jalan dikit ke negara tetangga sudah bikin travel blog, atau bikin tips-tips perjalanan, punya kamera DSLR dan bisa retouch sedikit dengan photoshop atau picasa, sudah menganggap dirinya photographer. Saya lagi-lagi tersenyum kecil. Sudah biasa dengan percetingan random semacam ini dengan bahasan beragam. Tapi kalau dipikir-pikir teman saya ada benarnya. Lalu saya mencoba berkaca, sebelum mulai bicara. Alih-alih ternyata saya juga tukang pamer. Mungkin?

Saya memang tidak pernah menulis tentang pengalaman hidup saya di luar negeri sih, juga facebook tempat saya (dulu) memajang foto-foto perjalanan sudah saya hapus. Dulu pernah punya blog yang penuh dengan foto-foto perjalanan dan cerita-ceritanya, tapi bukan untuk pamer dan ingin dianggap seorang penulis, tapi lebih karena ingin “disentil” sama photographer-photographer profesional yang kebetulan berteman sama saya, tentang teknik photography tentunya. Masa itu, masa dimana saya belajar habis-habisan teknik photography dan segera dipraktekkan keesokan harinya, publish, minta sentil lagi, kemudian praktek lagi, begitu terus berulang selama sekitar 2 tahun. Jadi kalau dilihat mundur timeline saya di blog tersebut, terasa sekali perkembangan kemampuan photography saya. Dan interaksi dengan sesama pengguna blog tersebut erat sekali. Kita juga tidak repot-repot pasang link supaya apa yang kita publish di baca teman atau sesama pengguna blog. Dan tidak ada satupun dari kita menyatakan bahwa kita ini travel blogger, ataupun blogger, berharap pun tidak.

Dulu pernah ada teman yang menawarkan saya bikin buku tentang perjalanan dan tips-tips nya. Saya merasa tidak pantas, negara yang dilewatin baru belasan.  Itupun di beberapa kota hanya 2-3 hari, saya tidak bisa mencatat kehidupan masyarakat hanya dalam waktu 2-3 hari. Kalau ingin tips tentang kota tersebut, baca saja Wikipedia atau Lonely Planet, lebih lengkap dan mumpuni. Lagipula setiap kali memutuskan liburan biasanya saya mencari kegiatan-kegiatan yang berinteraksi dengan masyarakat, pedagang ataupun pengrajin di kota setempat. Bahkan kadangkala terlupa mengabadikan ikon-ikon kota tersebut. Saya memang bukan tipikal orang yang senyum lebar tiga jari di depan ikon kota. Perjalanan cukup jauh terakhir yang saya lakukan dengan sahabat saya sempat berakhir dimana kami berdua belajar memintal dan membuat karpet. Tips dari saya tentang perjalanan sih, nikmati sajalah dan be humble, ini penting.

Kalau tentang kehidupan di luarnegeri, saya lebih banyak belajar tentang kemandirian dan kebudayan yang berbeda. Tentu saja jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat bukanlah hal yang mudah, tidak berbicara dalam bahasa yang sama, pemikiran-pemikiran yang berbeda bahkan terkadang mengalami diskriminasi. Yang saya lakukan pertama-tama adalah, mempelajari bahasanya, ini untuk menolong diri saya sendiri. Banyak yang bilang bahwa dengan bahasa Inggris semua sudah cukup. Di seluruh pelosok dunia ini minimal ada satu orang yang berbahasa Inggris. Ini memang benar, tapi ketika kita memutuskan atau harus tinggal di negara yang bukan berbahasa Inggris dalam rentang waktu yang cukup lama, bahasa negara tersebut yang akan menolong kita. Kecuali saya seorang pejabat diplomatik yang selalu disediakan jasa penerjemah mungkin saya tidak perlu mempelajari bahasanya. Tapi saya hanya seorang pelajar dan mempelajari suatu bahasa negara dimana saya tinggal adalah sama dengan menghargai negara tersebut. Saya bisa merasakan apresiasi teman-teman lokal saya ketika saya berbicara dalam bahasa mereka. Dan itu menyenangkan. Dan, undangan-undangan makan malam atau menginap di rumah teman-teman lokal berdatangan, ini salah satu pengalaman yang juga menyenangkan sekaligus kesempatan mengetahui budaya mereka, juga mengasah kemampuan bahasa. Tapi bagaimanapun, tetap saja ada orang yang merasa tertolong dengan tetap menjadi “asing” dan memilih tidak mempelajari bahasa tersebut. Saya tidak. Saya cukup senang dengan kenyataan bahwa ketika saya pulang ke negara saya, saya tidak hanya mendalami bidang saya tapi juga mempunyai nilai tambahan akan satu bahasa asing selain bahasa Inggris tentunya dan juga pengalaman budaya.

Dan tips tinggal di luar negeri dari saya, sama saja, be humble. Memang keinginan untuk pamer itu pasti sangat menggelitik. Saya pernah membaca tips-tips kerja di luar negeri dari seseorang yang baru kerja selama satu bulan di negara tetangga. Saya tersenyum geli. Atau sudah bercerita kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat. Euforia semacam itu selalu saja ada. Makanya saya selalu membiasakan diri untuk menulis semua yang saya rekam dan rasakan, sebagai luapan emosi sesaat, tidak untuk terburu-buru di published, yang kemudian saya filter lagi setelah beberapa hari, beberapa bulan bahkan. Atau hanya sebagai catatan pengingat untuk saya pribadi. Kenapa? Karena dulu saya pernah merasakan iri hati yang mendalam kepada siapa saja yang berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri, meski itu membuat saya berusaha keras untuk berkesempatan ke luar negeri, baik itu dengan cara menabung uang gaji bulanan saya atau berusaha keras mendapatkan beasiswa di salah satu negara indah yang dulu hanya bisa bayangkan tersebut, positif memang, tapi saya masih ingat betapa tidak enaknya merasa iri. Mungkin saya tidak ingin orang lain merasakan itu, tidak dari saya. Meski jika saya bercerita lebih jauh, pengalaman hidup di luar negeri bukanlah hal yang gampang dan kita tidak sedang liburan apalagi foya-foya. Disinilah saya belajar kemandirian dan berharap semakin jauh dan semakin banyak pengalaman makin membuat saya rendah hati. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s