Archive for September, 2013

I miss you, idiot!

Posted: September 14, 2013 in story over coffee

Hari itu hari terakhir kamu berada di kota itu. Kamu memasukkan kartu ucapan yang telah dibikin sedari kemarin ke dalam tas. Memeriksanya berulang-ulang. Khawatir tertinggal, karena belakangan kamu merasa sangat ceroboh. Kamu hanya ingin segera bertemu dia dan memberikan kartu itu kepadanya, lalu mereguk rakus senyum dan tawanya sebelum waktu merenggutnya dan kamu berada di penerbangan pertama esok hari.
Waktu setelah jam makan siang bergerak lambat, sia-sia saja kamu berusaha mendorongnya. Kamu menghabiskannya dengan mengobrol tak tentu dengan pasangan penjual nasi campur, dan berkali-kali melihat penunjuk waktu di telepon genggammu. Rasanya ingin menggenjot sepeda saat itu juga, tapi tidak mungkin, kamu lupa kalau sudah mengembalikan sepeda ke pemilik rumah. Dan dia memilih menjemputmu, sepulang kerja. Kamu menunggu di depan rumah, berpura-pura sibuk dengan telepon genggammu. Seandainya dia tahu, pasti dia akan menertawakanmu sampai pagi. Dia datang dengan senyum lebarnya. Mata jenaka itu terlindung di balik lentik bulu matanya. Saat itu kamu ingin waktu berhenti, oh konsistenlah! Tadi kamu menginginkan waktu berjalan cepat.
Tapi sudahlah, waktu tidak bisa lebih cepat, tidak juga lebih lambat. Kamu dan dia berboncengan, tertawa-tawa, entah oleh apa. Begitu selalu terjadi setiap kali bersama.
Tapi tiba-tiba, perasaan hatimu berubah cepat. Kamu merasa sedih karena sebentar lagi kebersamaan ini akan berakhir. Kamu mendorong kuat-kuat pintu masuk gym dan membiarkan sapaan-sapaan mas-mas berbadan kekar berlalu. Mungkin di hari yang normal kamu ingin menyapa balik mas-mas itu. Tidak kali ini. Kamu tidak merasa normal di hari itu.
Kamu duduk di bangku kayu panjang, setelah menimbang berat badan yang tidak kunjung berubah. Iya 44 kg saja, bahkan tidak memenuhi syarat orang dewasa untuk mendonorkan darah.

Dia tiba-tiba datang mengejutkanmu dari belakang;
“gak boleh manyun apalagi nangis…”
“aku ga manyun, gak nangis juga kok”
“ga boleh boong juga” dia menambahkan.
Kamu mendengus kesal.
Dia menciumi kepalamu dan bilang;
“ayo latihan”
Selama 1,5 jam kamu melatih tendangan dan pukulanmu, beberapa tangkisan dan gerakan-gerakan refleks. Disela-sela itu, kamu menghirup dalam-dalam odornya, seakan takut terlupa. Dan tidak terelakkan waktu cepat berlalu. Kamu segera menyelipkan kartu yang sedari tadi kamu bawa, ke genggamannya.
“muffinnya mana?”
“gak ada, kartu aja”
“mandi dulu ya…”
“iya, cepetan, aku laper”
Dia menenggak habis air di dalam botol air warna birumu dan bilang;
“iya, cerewet.”

Kamu menunggu di luar, duduk di tangga pintu masuk, mengelus-elus kucing betina yang kelebihan berat badan. Kucing itu mendesah perlahan, berpindah tempat mendekat. Menggesekkan badan, manja, ah bukan, menggesekkan badan dengan genitnya.
Malam merambat perlahan, dia selesai mandi.
“ayo makan…”
“sebentar, ngerokok dulu sebatang ya?”
“jadi, ga ada gunanya nih latihan 1,5 jam 3 kali seminggu, kalau setelahnya tetap aja ngotorin paru-paru dengan asap rokok!”
“iya dan kamu tetap aja cerewet” dia menjawab santai, sambil melolos batang bara yang dijepit diantara dua jarinya.
“yuk makan..”
“akhirnyaaaa” kamu melompat kegirangan, kucing betina terbangun dan berpindah tempat.

Kamu duduk nyaman di boncengan, memeluk erat pinggangnya. Angin malam berhembus perlahan. Tidak ada yang begitu menyenangkan bagimu selain duduk rapat dengannya.
“kartunya bagus, aku sudah baca sebelum mandi tadi”
“kok dibaca sekarang, bukannya dibaca di rumah? Tapi kamu suka?”
“kelamaan nunggu di rumah dan aku suka banget, puisinya juga bagus”
“makasih”
“aku yang makasih”

image

Kamu menyelesaikan makan dengan cepat. Kombinasi antara lapar dan ingin berbicara banyak dengannya, sebelum waktu habis. Sebelum warung makan menutup setengah pintu pertanda mereka menginginkan pelanggan pulang. Kamu berharap memiliki ingatan fotografis yang jika diperlukan kamu bisa mencetaknya atau memutar ulang peristiwa.
“jangan khawatir, kamu akan pulang kesini lagi kan? Temui dulu ibumu, bersenang-senanglah di hari raya bersama keponakan-keponakanmu lalu kembali kesini”
Kamu mengangguk pelan.
“gak boleh manyun”
Kamu menggelengkan kepala
“tumben ga cerewet, sini peluk”
Kamu dan dia berpelukan di warung makan, kamu meneteskan airmata.
“kok nangis?”
“dompet aku ketinggalan, kamu yang bayar makan ya…”
“hahaha, dodol, kirain ada apa”
“gak suka dodol, manis dan lengket di gigi”
“hahaha, kamu pulang ya, and i’m gonna miss you, idiot!”

Kamu dan dia kembali berboncengan pulang. Kamu memeluk erat-erat pinggangnya dan dia menciumi pipimu berkali-kali sebelum berpisah.

*i miss you too, idiot. A lot!

Advertisements

“Comè il tuo orale?” jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris akan menjadi “how is your oral?” Mungkin terdengar vulgar, bukan? Baiklah, jadi apa maksudnya orang Italia ini. Mari saya jelaskan. Secara harfiah berarti “bagaimana ujian lisan anda?” Sedikit informasi, orang Italia sangat menyukai oral (iya, ujian lisan!) Jadi meski kalian berkuliah seteknik ataupun sepraktik apapun, ujian akan dilaksanakan secara oral. Tentu saja saya panik mengingat saya tidak terbiasa dengan ujian oral sebelumnya dan cara berfikir saya yang acak. Tapi coba bayangkan jika kamu diminta untuk menurunkan rumus fisika beton secara oral atau rumus semacam ini;ds2= – N2dt2 + ij (dxi+_idt) (dxj+_jdt) . Tentunya bagi kita orang Indonesia akan serta merta menuliskannya pada kertas dan menghabiskan satu lembar folio penuh atau bahkan membiarkannya kosong karena kamu tidak tahu apa yang harus ditulis. Saya sering membayangkan mahasiswa kedokteran yang harus melakukan oral bersama profesor di depan kadaver. Tidak, saya tidak sedang membahas perilaku nekrofilia.
Jadi, setiap saya ditanya “comé il tuo orale?” sebelum menjawab saya pasti tersenyum dulu dengan pikiran mengembara (atau lebih tepatnya membara?) è bene!
Kembali saya jelaskan dalam bahasa Inggris.
“how is your oral?”
“it’s good!”
Masih terdengar vulgar?
Coba yang ini ;
Suatu kali saya dalam antrian ujian oral bersama teman-teman sekelas saya, dan salah satu dari mereka bertanya;
“sei pronta per l’orale?”
kamu siap untuk oral?
“non pronta ancora, invece ho paura”
belum siap, malah takut
“ma perché?”
kenapa?
“è difficile per me affare l’orale”
sulit bagi saya untuk melakukan oral
“dai! Tranquilla, bisogno solo piú meno 15 minuti per fare l’orale”
Ayolah, santai saja, hanya butuh kurang lebih 15 menit untuk melakukan oral.

Baiklah, saya rasa kita sudah menemukan gambaran kalimat ini jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Indonesia, tentunya ditambah kreatifitas kami para mahasiswa dibawah tekanan ujian oral yang datang silih berganti.
“jadi gimana oralnya tadi?”
“menakutkan!”
“kenapa? Biasanya juga cuman 15 menit untuk oral”
“engga! Aku tadi oral Prof XY 45 menit baru keluar!”
“hah, serius? Aku oral Prof YY 15 menit udah keluar”
“oral sama Prof XY suka lama”
….
Begitulah, saya tidak ingin memperpanjang pembahasan, karena saya ada janji oral dengan profesor saya minggu depan. Dan tentu saja, saya ingin tampil prima dengan persiapan yang cukup.

Selamat malam!

image

*foto saya sedang oral tujuh profesor … Iya tujuh (7)

Pizza e Birra

Posted: September 11, 2013 in story over coffee

It was medium sized Italian restaurant on the sea side, beautifully built all with woods. Sellia Marina to be precised. I worked there, to be in charged for all the tables and being Chef’s assistant at the same time. Summer is peak season of the year. Hot and hard.

Putting on the table clothes. First layer colored beige. The second one over it colored white. The flower’s patterns on the top. Pay attention on the detail, don’t put it upside down. People notice. Yes they do. At least my boss’ wife does. One serviette, two glasses, big and small. One for the wine, the other for the water. Put them diagonally on the top right of the serviette. One big plate, the smaller one on top of it. A pair of forks are on the left, the knives on the right. The spoons in front of the plates, the biggest one is the most outside, two rows.

Table for two is eight, table for six is five. Table for family combined from two tables for two or mixed. Friday, Saturday and Sunday, all tables covered. Monday to Thursday only 3/4 of them covered.

Putting on all of them at 11:00 AM, putting off at 3:30 PM. Putting on again at 6:30 PM and putting all of them again at 1:00 AM. Put the used table clothes in the laudry bag, and putting the unused eating utensils back in the drawers. In between I helped the Chef in the kitchen, it always needed couple of seconds to understand what he ordered and to memorize all of the names. La pentolla, il cotello, pomodoro secco, il pesto. “Lava questi bene e poi li taglie piccoli piccoli!” I barely understood what he said, the words were crumbled and sometimes I only see him pinching the air when he is upset about something. Italian ways of speaking.
Back to the table, to see all of the things beautifully put on the table is quite entertaining. All the shiny glasses, the sweet fragrance of the table clothes combined with beautiful view of Mediterranean sea and the smell of salt water. When the sun starts setting in, you’ll be the witness of the sun plunged to the sea silently leaving the orange color in the sky, the birds were marching back home. The night crawled slowly and changing all into darkness where you hear the sound of the waves.
I was hoping to witness the romantic scene in that place. Because the place is right, the ambience is perfect. Proposing a girlfriend in beautiful dinner or at least to see couples French-kissing under the dim lights. Then a group of traditional musician came out playing an accordeon and singing some love songs. I barely hold my own tears on my own fantasy as I heard somebody calling me;
“Signorina… Una pizza margherita larga e quattro birre!”
(one large pizza margarita and four beers)
“avete bisogni altre cose?”
(you guys needs something else?)
“No”
“forse volete decidere dove sedete?”
(maybe you want to decide where to sit?)
“No, portiamo via”
(no, we take away)
“ah, va bene…”
(ah okay)
So that’s it, apparently no romantic scene, they don’t even bother to sit down and to see the tables or our high class South Italian menu.
image

My fantasy was vanished into the smoke of pizza making. Vanished with all the new vocabularies that I just learned in the morning. Vanished with the words ; Pizza e Birra e basta! (pizza and beer and that’s it!)