Archive for May, 2014

Merindu

Posted: May 8, 2014 in story over coffee
Tags: , ,

*pernah ditulis di multiply, 26 September 2007

Beib, kangen deh sama kota yang membuat kita bertemu, sama kota yang membuat kita sama-sama mempunyai titik balik dari kehidupan kita sebelumnya. Kangen sama aturan-aturannya yang hampir selalu membuat kita mengumpat setiap hari.

Kangen pantai itu beib, pantai dimana aku selalu duduk di pinggirnya sambil menikmati sunset, dengan segelas besar cappuccino dingin yang selalu terlalu manis atau terlalu encer.

Kangen pantai itu karena selalu bisa menikmati senyum dia yang malu-malu, beib, menikmati wajah dia yang sedang menikmati sepiring indomie goreng telur.

pantai lampuuk aceh

Kangen rumah pari yang “membesarkan” aku disana, dengan segala kegilaaan dan kehangatan para sahabat, tawa mereka selalu saja bergema di dinding hati, setiap hari.

Kangen warung kopi, dimana para bapak-bapak dan para pemuda-pemuda memandang penuh keheranan ke meja kami, setiap kali kami masuk, setiap kali kami tertawa, setiap kali salah satu mulut dari kami mengepulkan asap rokok. Ah beib, mereka mungkin belum terbiasa melihat perempuan-perempuan merokok, di tempat umum pula. Atau mereka tidak terbiasa melihat segerombolan perempuan-perempuan yang nampak terlalu bahagia. Dulu aku pernah jengah dengan tatapan itu, dulu aku sempat muak dengan semuanya, beib. Dan berjanji bahwa aku tidak akan pernah kembali, apalagi merindu.

Tapi sekarang? Aku merindunya…

Aku merindu setiap jengkalnya, bahkan setiap adegan serasa bermain di kepala, bagai satu buah filem yang diputar ulang dan ulang dan ulang.

Dan aku merindukan burger sarat kalori itu beib lalu terlupa akan diet dan seluruh program detoksifikasi yang pernah dijalankan.

Lalu merindu masjid yang berdiri megah itu, yang senantiasa membuatku kecil dan teringat kepadaNya.

Lalu merindu akan compound-ku disana yang tidak terlalu luas tapi nyaman, yang aman terhadap gempa sekalipun.

Lalu kangen pantai itu lagi, yang senantiasa membuatku kuyup beib, mungkin kuyup seperti bibirnya joni bencong, tapi aku gak peduli, lalu menantang ombak lagi dan lagi, pulang dengan kantong penuh pasir dan rambut kritingku yang menjadi semakin kusut dan kulit gelapku yang semakin gelap.

Lalu kangen senyumnya, dan komentar-komentar garingnya  “duh kamu yang ganteng aku mencintaimu”.

Lalu warung terapung itu, dengan teman-teman ataupun dengan laki-laki yang tak seberapa itu tapi cukuplah untuk membunuh bosan. Iya beib, membunuh bosan.

Lalu sanger yang seringkali kemanisan, lalu bau kopi yang menyeruak membangunkan urat-urat syaraf, lalu makanan yang lengket di jari dan di gigi itu. Timpan namanya.

timpan

Dan bandrek susu dan pisang goreng di sore hari dan warung nasi goreng yang abang penjualnya sungguh atraktif.

Dan semua saja aku rindu..


*was written on Dec 14 2008, 4:50 AM

Segala cerita tentang kita selalu bercampur dengan khayalan. Aku ingat kita selalu tertawa terbahak-bahak akan sesuatu yang tidak di mengerti orang lain. Aku melihat sebuah alat raksasa yang berada di pinggir laut ketika kapal kita menyeberang pelan dari Karimun menuju Semarang. Gajah kataku setengah berteriak… Jerapah katamu, lalu kita terbahak, geli berurai air mata.  Kita tidak selalu punya pemikiran yang sama, tapi kita selalu punya tawa yang sama akan sesuatu. Kita juga selalu mempunyai cerita bersambung yang kita karang-karang sepanjang perjalanan, atau hanya karena mulut kita tidak bisa diam.

Aku mengarang cerita bahwa Thomas rindu pada Dolores, tapi Dolores telah menemukan tambatan lain sehingga dia pergi tanpa pamit, lalu Thomas menjadi gay, aku juga tidak mengerti apakah Thomas sebenarnya bersumpah menjadi selibat atau mulai berubah orientasi sexual, entahlah. Mungkin Dolores telah menjadi penari striptease di red district, karena seingatku, pantat Dolores sangatlah sexy, ya mungkin saja.

Lalu kamu mengarang cerita, bahwa kamu adalah atlit nasional, yang handal dalam bidang renang, polo air dan loncat indah, aku mendengarkan dengan mata berbinar dan berkomentar; “kamu memang hebat!” Kemudian kamu tambahkan; “iya, tapi untuk klasifikasi umur 10-18 tahun”. Dan kita lagi-lagi terbahak geli berurai airmata. Mungkin tidak lucu bagi orang lain, mungkin juga terlalu aneh untuk orang seusia kami. Tapi toh kami hanya bersenang-senang.

Tiba-tiba kamu bilang “aku rindu Amin”, serentak pikiranku melayang ke perjalanan kita dimana kita masih terbungkus sarung di dalam bus lalu di paksa keluar karena menurut mereka tujuan kita telah tiba, lalu kita tertawa membelah fajar yang hampir menyingsing, di tengah jalan yang masih teramat gelap bahkan untuk melihat gigi masing-masing. Atau untuk melihat betapa lucunya wajah kita ketika dengan mata setengah terbuka dan badan terbungkus sarung diturunkan di tengah jalan sepi dan gelap. Tapi kita tidak pernah kehilangan tawa.

Jika kata-kata aku rindu Amin adalah menu tambahan, maka kata-kata rindumu kepadaku dan sebaliknya adalah menu utama, kita tidak pernah kehabisan kata untuk mengucapkan kata ini. Aku rindu kamu karena bisa  membuat waktu-waktu mencuci jadi menyenangkan, dan aku rindu kamu karena kamu mampu mengubah brondong biasa menjadi brondong jalang. Lalu kembali terbahak memenuhi gendang-gendang telinga, memantul berulang-ulang. Brondong katamu???

Jika saja kita adalah pasangan, mungkin kita telah membangun rumah tangga yang mengasyikkan selama beberapa tahun belakangan ini, tapi kita tidak pernah saling tertarik secara sexual, meski bukan berarti kita tidak pernah tidur bersama, hanya karena kita suka menghabiskan malam-malam bersama saling bercerita hingga terlelap, atau memperebutkan satu selimut di malam yang dingin yang ternyata sebuah taplak meja kotor dan berbau makanan.

Segalanya berjalan begitu cepat belakangan ini, segala kenangan mampat, atau malah datang bersamaan di satu waktu. Bau babi dan kopi toraja datang silih berganti, menggantikan kenangan yang tercetak di mata, bahkan ketika aku terpejam sekalipun. Tapi aku bahkan tidak mampu mengingat bau parfummu, tidak sedikitpun, aku hanya menciumi harumnya sunblock yang serta merta membawa kenangan ke semua pantai yang kita datangi bersama, juga membawa odormu di indera penciumanku. Oh tapi aku ingat bau kepalamu, waktu itu kita dalam perjalanan darat, tidak terlalu jauh dan kamu sakit. Aku ciumi kepalamu dan bilang “kamu bau asem schatz…“ jawabmu ; “ya karena aku tidak mandi dan keramas pagi ini, aku cuman ingin segera sampai, schatz“ lalu kamu tidur semenjak duduk di mobil hingga tiba di tempat tujuan. Kala itu kita tidak mengarang-ngarang cerita sepanjang perjalanan, aku duduk termangu di tengah-tengah kemacetan. Sepi, karena aku tidak mendengar gelak tawamu yang kemudian biasanya dipantulkan oleh gelak tawaku memenuhi ruangan ataupun kendaraan, dan dingin, karena hujan tak kunjung berhenti di luar sana. Tentu saja kita segera merindukan teh yang mengepul panas dari gelas, tidak harus earl grey dari Inggris, kita sudah cukup puas dengan teh melati bermerk prenjak. Lalu membaui aromanya mampu membuat kita tersenyum senang. Tapi aku melihat kamu terbaring pucat, hatiku mencelos. Aku juga ingin segera sampai, schatz, bisikku.

Maka hari-hari berikutnya kita isi dengan janji temu dengan sinshe, karena kamu sedang tidak ingin mendatangi dokter langganan. Rumah sinshe itu sederhana saja, tapi pasiennya antri panjang, aku menunggu dengan gelisah, tapi setidaknya toiletnya bersih meski letaknya di halaman rumah.

Sakit apa saya? Kamu bertanya dengan sinshe yang sibuk memijit-mijit jari-jari kakimu. Tidak, tidak sakit apa-apa, kata sinshe itu serius. Aku dan kamu membelalak heran. Lalu sinshe itu menambahkan, cuman kurang sehat. Tentu saja kita langsung terbahak mendengar kata-kata sinshe ini. Tapi ah sudah aku bilang, bahwa kita memang tidak pernah kehilangan tawa.

Mungkin kita ini berhenti tumbuh, katamu di suatu hari yang cerah. Ya aku sih tidak keberatan, katamu lagi, tapi cuman merasa aneh saja. Bukannya kita berhenti tumbuh sudah sejak beberapa tahun belakangan, schatz? tanyaku. Tapi seperti kamu, akupun tidak keberatan. Mungkin karena itu juga kenangan denganmu selalu lekat dalam ingatan bercampur dengan khayalan dan imajinasi yang tidak pernah habis. Meski kemudian ditumpuk dengan kenangan baru.